Blogger Widgets

DewaCakrabuana

"... demi Bung Karno, Jembrana, dan Rock n Roll!"

Surat Untuk Beliau

Jembrana, 1 April 2017

Akhirnya, hari ini tiba juga.

Jelas bisa kubayangkan bagaimana perasaan beliau. Pasti sumringah! Duh, itu adalah perasaan template bagi kami, pekerja (entah negeri maupun swasta) yang selalu mendamba kata keramat itu.

Kata keramat itu bernama: M U T A S I !

Membayangkan seberkas berformat pdf dengan belasan lembar lampiran, dan nama kita tercantum di dalamnya, terangkai dengan sebuah nama kota familiar, sudah barang membahagiakan. Amat membahagiakan. Patut dirayakan.

Namun -sayangnya- selain merasa bahagia dan bangga, ada rasa sedih terselip di dadaku.

Sayang nian, di hari perayaan itu, aku tak bisa hadir.

Bukan karena tak ingin. Semata karena tak sanggup. Duh gusti, kondisi rekeningku sedang merana-merananya. Belum lagi hari raya yang berdempetan, kompak menguras sumber daya.

Penting Nggak Sih, Pelaku Teror Itu Agamanya Apa?

Sebagaimana ujar pujangga-pujangga melayu, dari yang klasik sampai yang kekinian, dari Sutan Takdir Alisjahbana sampai Andrea Hirata, kiranya sepakat akan satu hal: cinta memang membawa bahagia, tapi jangan lupa, banyak juga petaka yang dibuat atas nama cinta.
Tak percaya?
Tengok si Mirah dengan Midun. Bukan main gelora cinta sejoli ini, sampai-sampai dahulu saat Midun meminang Mirah, ia merelakan delapan ekor sapi kesayangan untuk jadi mahar. Sayang seribu sayang, bulan kemarin Mira tertangkap basah tengah berasyuk-masyuk dengan Todi, pegawai honorer kelurahan. Midun pun gelap mata, dibutakan cinta. Ia tebas itu Todi punya leher, tanpa ba-bi-bu. Ahh… atas nama cinta.
Lain lagi kisah pecinta bola. Fans tim kaos oranye Jakarta dengan biru Bandung, misalnya. Bukan main mereka fanatik pada kesebelasan masing-masing. Cinta mati! Berkat itu pula, tiap keduanya bertemu, entah di stadion, di parkiran, terminal, bengkel, jalan, pasar senggol, warung tegal Bibi Ainun,  jamak tragedi baku hantam sampai hadang-hadangan bus segala.
Semua karena cinta.
Saking cintanya Hitler pada ras Arya, ia berambisi mencaplok Eropa. Karena cinta pada darah-murni, Voldemort juga membunuhi kaum yang tak sepaham.
Sampai di paragraf ini, kok kesannya cinta begitu mengerikan, ya? Ternyata cinta bisa berujung tindakan ekstrim, dus menjadikan pecandunya berlaku nekat. Anteng saja mereka merasa benar dengan menjadikan kecintaan sebagai dalih.
“Demi cinta, matipun abang rela, matiin orang juga rela,” begitu mungkin tekad Midun dalam hati, bersama penggila bola, Hitler, Voldemort, dan jutaan pecinta-pecinta lain di bumi.
Tak hanya itu saja, Kawan! Masih ada lagi bentuk cinta yang tak kalah rumitnya: cinta pada agama!
Benar, aku sedang bicara tentang hal yang paling sungkan untuk diobrolkan abad ini, cinta yang terkadang (kalo ndak mau dibilang sering) berujung ke tindakan ekstrim nan anarkis.
Nah... masih mau lanjut?

Makam Imam Al Bukhari Indah Berkat Bung Karno

Ini kisah menarik!
Dijamin buku sejarah orde baru jaman dahulu sengaja tak menceritakannya.
*  *  *

Saat itu -aku lupa tepatnya kapan- aku duduk manis di depan layar televisi. Kick Andy sedang kedatangan tamu, Tim Ekspedisi Fastron Euro Asia 2011. Sekelompok lelaki traveler  kekar itu tengah tengah diwawancarai lelaki tirus setengah kribo. Oh yeah, Bung Andy kala itu belum gundul.

Team leader ekspedisi, Bucek Deep, berkisah tentang satu penggalan unik dalam perjalanan mereka. Saat itu Bucek bersama tim sedang menempuh perjalanan sepanjang negara-negara pecahan Uni Soviet, dan berada di negara persinggahan yang ketujuh, Uzbekistan. Tepatnya di Desa Khartank, dekat dengan Samarqand.

Di sinilah terletak sebuah masjid, tempat Imam Al Bukhari dimakamkan.

"atasnya masjid, bawah tanahnya makam Imam Bukhari"
Pernahkah engkau mendengar nama itu? Pasti pernah! Aku yang beragama Hindu saja sering mendengar nama besar Imam Bukhari. Tiap kutipan ayat Islam di acara televisi hampir selalu menyitir karya Beliau. Imam Bukhari memang ahli hadist yang masyur, hampir seluruh ulama merujuk padanya. Beliau lahir dan meninggal di Bukhara dan itulah sebab tim ekspedisi ingin sekali berkunjung ke masjid tempat Beliau dimakamkan.

Sayang, Bucek c.s. sampai di sana saat malam telah datang. Mereka pun tak berharap banyak.

Dari Ajahn Brahm, untuk Hatiku yang Kurang Senyum

Jadi...

Tiba-tiba aku memilih buku karya seorang bhiksu di rak Gramedia. Dipilihkan, tepatnya. Kawan-kawan punkers-ku bisa meloncat dari kursinya bila mendengar Dewa Cakrabuana memilih buku bhiksu, alih-alih buku sejarah G30S atau majalah Rolling Stone.

Oke, lanjut.

Sebuah buku yang ditulis bhiksu...

Apa yang ada di pikiranmu? Ini bakalan dalam, panjang, dan bersayap, mungkin. Kubayangkan isinya akan luhur, berbahasa sastra tinggi. Aku bukanlah penikmat sastra-hero macam Pramoedya, atau Dee yang bahasanya mengawang indah. Hanya pria sejantan Rangga di AADC yang kayak gitu, mungkin. Nah aku? Membayangkan pembukaan buku tulisan bhiksu saja sudah membuatku mulas. "Pasti dibuka dengan kutipan mutiara Sang Sidharta, Berat!" begitu pikirku.

Kurobek segel plastiknya -ritual menyenangkan tiap beli buku anyar- lantas kubuka halaman awal. Mulai kubaca kalimat pertama sang penulis di bagian Prakata... kata pembuka mutiara macam apa yang ku temukan?

"Pisang itu keren banget."

Eh?
Pisang itu... WTF? Lho kok pembukaannya gitu?



Aku mulai merasa bhiksu penulis buku ini kurang waras. Yasudah, kunikmati saja lembar demi lembar, toh sudah kubeli. Halaman demi halaman berlalu, dan ahh... akhirnya aku tersadar. Bhiksu yang awalnya kukira kurang waras ini ternyata sangat waras. Mungkin orang paling waras yang pernah melintas di kehidupanku.

Namanya Ajahn Brahm. :)

Kupang, di Pagi Hari Itu...

Kubuka mataku perlahan, mengejap-ejap. "Sial, baru jam lima kurang lima belas!" kutukku dalam hati. Kadang sengaja kusetel alarm gaduh handphone di jam-jam ini, sekadar untuk terjaga lantas tidur lagi. Tahukah kalian, sensasi bangun awal dan menyadari masih ada waktu tidur adalah menyenangkan? Ha!

Tapi tidak untuk pagi ini. Pagi ini alarmku tersetel pukul 06:23... dan 06:25.... dan 06:30. Sekarang baru 04:45. Masih lama!

Ada apa gerangan?

Entahlah... tapi tubuhku langung terjaga penuh tanpa lelah. Padahal seingatku aku masih terjaga jam 01:45, artinya aku baru tidur tiga jam. Aku tidak merasa aneh, malah tersenyum lebar. Mungkin benar, luka itu tempatnya di fisik, namun lelah dan menderita itu tempatnya dalam hati, tergantung bagaimana kita memikirkannya. Satu lagi dari sekian banyak hal baru yang batin dan tubuhku alami di dua minggu ini. Dan atas semua hal itu,  aku bersyukur. :) 

* * *


Masih berbaring, kubuka tirai jendela di sebelah kasur. Berkas sinar malu-malu tampak tersamar di balik atap rumah tetangga, membuat rumah tetangga seperti benda gelap besar dengan sedikit sinar mentari di belakangnya. Ah, Kupang... kau dianugerahi lokasi yang lebih timur dari Bali, sehingga menyongsong Hyang Surya lebih dahulu. Jam lima subuh sudah benderang!

Sungguh, itu pemandangan yang keren. Terasa indah dan hangat!

Spontan saja aku melompat ke pemutar musik. "Mana lagu Melati Suci dari Guruh ya..." batinku sambil menyusuri track list. Ini dia! Segera ku klik tombol play, dan mengalunlah lagu itu. Selimut yang tadi tercecer di lantai kini kugulung di badan, dan aku duduk manis menghadap jendela. Menghadap ke arah timur.

Dalam duduk diam ini, pikiranku melayang jauh ribuan kilometer ke kampung halamanku.

Malam Sebelum Final JBK2014...

Bapak Ibu hadirin yang terhormat.
Ada sebuah stereotipe yang menggantung di masyarakat.

Stereotipe itu berbunyi sebagai berikut;

Predikat Jegeg Bagus, Putri Indonesia, bahkan Miss Universe dan kontes sejenis lain hanyalah sebuah mahkota dan selempang kosong. Nihil kontribusinya! Sekadar sekelompok muda-mudi beradu tampilan, yang berawal dari panggung gemerlapan, berakhir di acara-acara seremonial dan baliho.

“Mengapa mereka menjadi duta pariwisata kami?” masyarakat bertanya-tanya, “Apakah mereka mampu? Selama ini tak kami rasakan kontibusi nyata dari mereka. Apa mereka secerdas payasan-nya?

Begitulah kira-kira bisik kecewa masyarakat Bali terhadap  kami, para Jegeg Bagus.

Lagu Malam Itu...

Seorang kawan pernah berkata padaku. Katanya, "Wo, orang menulis itu... karena hatinya resah."
Entah malam ini aku dilanda resah atau tidak. Apa pula makna istilah "resah" itu. Aku tak mengerti. Buatku bahasa adanya cuma kesepakatan. Tidak lebih.
Malam ini mendadak ku-silent telepon genggamku. Kupasang earphone di kuping erat-erat, sambil kuputar musik secara random via playlist di aplikasi musik.
Lagu-lagu berlalu, banyak yang sudah basi. Aku sudah hafal segala rincinya, dan akupun bosan. Tapi kebosanan itu berhenti tiba-tiba.

They Said...

“Jangan menjadi orang ketiga di artikelmu. Jadi pemeran utamanya. Karena orang masuk ke sini ingin merasakan menjadi dirimu, dengan membaca artikelmu..." (Maha Dwija Santya)


“Jangan bikin kepalamu jadi perpustakaan..” (Svami Vivekananda & Bung Karno)

Persetan dengan uang, traffic, populer, dkk! Blog ini hanya tempat pribadiku untuk berteriak"

“suatu saat nanti, saya akan baca blog ini lagi dan berfikir: ini yang saya pikirkan saat itu..."

Komentar Terbaru

Here're My Friends!

Ikuti Blog Ini...