Sore ini sepi di kota Negara. Kuambil earphone, duduk ku di teras sambil memandang jalan depan rumah. Sepi. Kucolok 3,5mm jack di handphone, menu music kupilih, dan lagu ini kuputar.




"... ghost in my head..."
"... Just look up to the stars...
"... And believe who you are...
"... Cause it's quite alright..."
Entah dimana, pernah kubaca semacam percakapan Bung Karno dengan seorang anak kecil. Kureka ulang percakapan itu dengan kata-kataku sendiri.
"Nak", sapa Bung Karno pada seorang anak Indonesia, "Hayo, duduk disini, disebelah bapak. Bapak punya cerita"
Si anak langsung beringsut, mendekati Bapak sambil menampakkan wajah penasaran. "Cerita apa, Pak?"

"Dulu, dunia ini dihuni oleh raksasa-raksasa. Ya, raksasa!", Bung Karno memulai ceritanya. Reasi si anak yang tadi penasaran langsung berubah kecut.
"Oh! Aku kira cerita serius... raksasa... :x ada-ada aja Bapak ini."
"Serius ini Nak, benar-benar raksasa!" tangkis Bung Karno tersenyum jenaka. "Sekarang dengar ceritaku, dan kau akan terpukau ;) "
* * *

Sampai detik itu, aku juga mengkerutkan dahi. Persis anak kecil diatas. Aku kira Putra Sang Fajar ini akan menceritakan filosofi Pancasila, perjuangan rakyat-rakyat Asia Afrika, atau kisah nyata heroik lainnya. "Cerita Raksasa"? Hah... cuma cerita dongeng....
Tapi, ternyata aku salah kira.
Salah besar! 😪 
* * *

"Dulu, Nak, raksasa-raksasa itu benar-benar ada di dunia. Mereka berjalan seperti kita diatas tanah yang sama kita pijak, tapi mereka bukan manusia biasa. Mereka raksasa!"
"korporal kecil hobi baca"
Bung Karno berhenti sejenak, melihat reaksi si anak yang masih kebingungan, lalu ia melanjutkan, "Raksasa itu ada yang bernama Napoleon, raksasa itu ada juga yang bernama George Washington, Jefferson, Karl Marx, Lennin, ada pula yang namanya Hitler, dan banyak lagi raksasa-raksasa gagah berani lain!"

"Mereka bukan raksasa, Pak!" sergah si anak, emosi. "Mereka manusia biasa. Bahkan Napoleon badannya kecil, jauh dari raksasa, sampai-sampai dipanggil Le Petit Corporal, si Kopral Kerdil"

Kali ini Bung Karno tersenyum lagi, "Heh Nak... kuno sekali caramu memandang dunia. Sampai kapan manusia terobsesi pada ukuran terus. Ukuran tak pernah jadi patokan, camkan itu. Gandhi-pun disebut orang besar, tapi badannya kecil sahaja, bukan? Jadi apa yang membuatnya jadi orang besar?"

Mata si anak mendongak, menunggu jawaban...

"Tidak lain tidak bukan, adalah pemikirannya. Ideologinya
. Dulu dunia seru dan berwarna karena para raksasa. Raksasa dalam pemikiran dan pendirian. Raksasa ideologi yang membuat dunia jadi berwarna-warni, jadi bergelora!" tukas Bung Karno.
Bung Karno bersama para pemimpin dunia


"Ah... aku tahu yang kau kau pikirkan," sergah Bung Karno saat melihat air muka sang anak hendak menyela, "Ya, ya, banyak yang bilang mereka penjahat, orang kejam, bahkan orang gila. Jangan pernah percaya sepenuhnya pada sejarah, Nak, karena sejarah selalu ditulis oleh pemenang. Contoh mudah saja, bila Indonesia tak merdeka dan masih dijajah Belanda, aku yakin kau akan diberitahu lewat buku-buku sekolahmu bahwa aku adalah seorang pemberontak, seorang bandit celaka!"
(lebih lengkap tentang demonisasi tokoh sejarah bisa dilihat disini)

"Ah, aku rindu dunia yang dulu..." kata Bung Karno, menerawang," George Washington membawa angin baru  menampar imperialisme Inggris dengan Declaration of Independent, Karl Marx melahirkan ideologi baru demi nasib kaum buruh di Eropa. Hitler, Napoleon, semua orang kecil yang mampu memukau jutaan rakyat mereka. Tak masuk akal bila mereka jahat sempurna, sementara mereka berdiri didepan jutaan rakyat yang mendukung dengan berapi-api."

Che Guevara menyambut pemimpin Gerakan NonBlok
"Merekalah raksasa-raksasa yang tidak sekadar numpang hidup di dunia, mereka ikut memelintir, memeras, membentuk dunia yang mereka hidupi itu! Berusaha mewujudkan cita-cita pemikiran, menularkan gagasan dan ide-ide baru pada dunia. Mereka raksasa-raksasa yang sangat hebat :) !"

"Bagaimana dengan duniamu, Nak? Masihkah ada raksasa disana? Masihkah ada orang berhati seluas dan sekeras samudera yang semangatnya memukul-mukul dunia?"


* * *

Aku mendadak teringat pada kata-kata Ayahku dirumah dulu. Saat itu aku libur dari kuliah di Jakarta, dan kami duduk selonjoran di teras sambil melihat matahari tenggelam di sudut kabupaten Jembrana yang sepi.

Kutanya dia, "Ji, dulu, inget nggak pas Aji mengkritik togel yang marak di Jembrana di Balipost? Sampai pas aku pulang dari sekolah, aku lihat Aji lagi diintogasi tiga intel di rumah sambil nunjuk-nunjuk aku."


"Ingat lah..." kata Aji ku sambil nyengir. "Besoknya dipanggil ke kantor polisi buat diintrogasi lagi. Tiga jam, haha :D !"
Kutanyai dia lagi, "ngobrolin apa aja disana?"

Aji ku berkata, "Polisinya bilang, bapak sadar nggak kalau bapak ini membuat banyak orang tidak nyaman karena "pemasukannya" terganggu? Aji langsung aja tunjuk kamu yang lewat pulang dari sekolah sambil bilang gini, saya selalu suruh anak baca Vivekananda, buku yang Soekarno baca di penjara. Saya suruh dia ingat kalimat di bab I halaman 3 yang digarisbawahi Bung Karno, katakanlah hanya kebenaran walaupun sedang ada ujung pedang terhunus di lehermu."

Aku manggut-manggut, dan Aji melanjutkan, "camkan baik-baik ini, De, ini kata Zainnudin MZ. Saat kita mati nanti, Tuhan akan bertanya "apa yang sudah kau lakukan", dan bukannya "apa yang kau lakukan berhasil atau tidak". Pegang prinsip, punyai hati raksasa walau badan kecil..."


(ditulus sambil berfikir....
"cerita ini butuh sekuel... ;)"
Bila ada hal yang mengganjal di hati dan otakmu dan itu membuatmu ingin menyampaikan sesuatu padaku, -pertanyaan, saran, tanya kabar, rekomendasi tempat makan cozy, anything :o !- kau dapat menghubungiku via...
"click to see my G+"


Google+?
Bukan Facebook, atau Twitter?

Entah, aku nyaman disana. Mungkin karena masih sepi, mungkin karena privasi sangat dihargai disana, mungkin karena aku bisa berbagi hal tepat ke kelompok sahabat yang tepat dengan vitur circle-nya, mungkin karena vitur sparks-nya membuatku membaca berita berkualitas berdasarkan tema kesukaanku, mungkin juga karena dari sana aku bisa mengakses semua layanan google yang terintegrasi jadi satu...
Ah... kok jadi promosi... :x

Bung Karno seorang proklamator? Semua orang sudah tau.

Bung Karno seorang yang menginspirasi negara-negara Asia Afrika untuk merdeka? Semua orang sudah tau juga.

Bung Karno punya tiga medali penghargaan dari Vatikan -yang membuat Presiden Prancis mengeluh, "saya yang beragama Kristen kok cuma dapat satu!" :D - Nah, yang ini baru sedikit yang tahu.

Kalau Bung Karno seorang seniman, sudah banyak kah yang tau?


"Perlu jiwa seni untuk menyatukan belasan ribu pulau agar seirama, bergabung dalam satu ombak revolusi yang menggelora!", kata Beliau suatu ketika. Sebagai arsitek lulusan ITB, perancang Monas, perancang taman kenegaraan di Yogyakarta, perancang revolusi Indonesia, yeah... Bung Karno memang seorang seniman sekaligus pecinta seni.

Berikut ini salah satu hasil karyanya: puisi!

Kau bukan satu-satunya makhluk yang menderita...

Tak malukah engkau dengan mereka?
Anak: "kenapa kok dukung Argentina, Ji?
Aji (ayah): "Hm... Argentina negara miskin, krisis, dan penuh konflik, De. Rakyatnya lagi susah, dan kalau team bolanya menang dan pulang bawa piala, rakyatnya pasti terhibur sedikit. Soalnya disana kan sepakbola aja yang bisa buat mereka bersatu dan lupa akan beban idup...

...terjadi di World Cup 1998, dan sampai sekarang anak itu tetap mendukung Argentina.

Seni dan olahraga harus pro rakyat proletar, rakyat jelata. Seni tak boleh hanya bisa dinikmati kaum borjuis di opera sambil berbaju jas yang wangi sahaja. Tidak! Seni dan olahraga harus bisa membuat semangat dan rasa nasionalisme berkobar dan menyala-nyala tiap anak bangsa saat mereka menikmatinya.

Bung Karno pun menulis puisi tentang Indonesia. Dan kaitan antara seni, olahraga, dan semangat kebangsaan ini mengingatkanku pada pidato yang pernah Dipo Nusantara Aidit ucapkan dulu. Kebangsaan, sosio, kerakyatan erat kaitannya dengan seni.
*lengkapnya bisa klik disini*

Kini, kau berkesempatan mengibarkan bendera negara di hati rakyatmu yang lelah. Bakar semangat rakyatmu, buat mereka ceria lagi ditengah krisis yang tengah erat menghimpit. Semangat Argentina, mainkan bola demi rakyatmu! Jadilah pahlawan!
"Thx... PRJ!"
Hai!
Perkenalkan, namaku Dewa Made Cakrabuana Aristokra. Panggil saja aku Dewo, sebagaimana teman-teman sejak TK memanggilku sampai sekarang. Tahukah kamu, kemarin aku baru saja menonton konser live Superman Is Dead setelah sekian lama?

Sekian lama... ya, lama sekali!
Dan konser kemarin -konser yang kutunggu-tunggu itu- jujur saja agak membuatku sedih. Sedikit sedih ditengah kebanggaan di dada akan kebesaran Superman Is Dead sekarang. Pekan Raya Jakarta jadi saksi pertemuan kami kembali. Bagian menarik dari pertemuan kali ini -entah karena panitianya memang lugu atau bagaimana- mereka menyepanggungkan SID dengan, ehm... Pee Wee Gaskins!!!


Kami pernah berlari bersama...

mengejar mimpi, mengisi emosi masa muda, saling sokong saat tersandung, membuatkan pattern drum untuk lagu kami, berdoa bersama sebelum menghajar panggung Peanut Bar, meyakinkan orang tuanya bahwa ITS dan band adalah hal yang layak diperjuangkan...

dan sekarang,,,, dua anak yang mencoba menjadi berandalan itu sudah dewasa! Kami sudah sama-sama dewasa...
Life must go on... and we will rockin at our fuckin podium as a WINNER of our own life...
thx mate :D 


Seorang anak SD diam di depan radio Sony hitam ayahnya. Didengarkannya Radio Glegar Jembrana 100,7 FM yang tepat di jam 8 malam menyajikan lagu-lagu berkualitas nasional ke telinga daerah pelosok barat Bali bernama Jembrana.

Dan, lagu dari grup band Slank berjudul "Salah" memukaunya! Emosi si anak SD itu ditarik lagu berbeat drum konstan ini bertempo sedang ini. Mengaduk-aduk. Sampai di bagian melody, didihan tadi jadi meledak!!! Dan tepat diatas sana berdirilah sang gitaris, dengan enam senar pengaduk hati anak manusianya. Melodi yang dibuat mengiris, berawal sedang semakin meninggi, meninggi, melengking...

Sebuah penggambaran yang heroik :D 
(ini adalah resensi film paling tidak biasa, dan cenderung tidak normal)


Every single musician di bumi ini ingin menyampaikan isi hatinya. Tapi isi hati yang bagaimana yang akan sampai ke hati pendengarnya?

Bung Karno -percaya atau tidak- telah memberi tips mumpuni!

Janganlah menjejalkan ide baru, tapi suarakan apa yang memang ada di hati orang-orangmu. Jadilah penyambung lidah mereka, menyampaikan apa yang mereka enggan tuk rasakan, apalagi ucapkan. Dengan begitu, kau akan hidup di hati mereka. Mereka akan bersorak-sorai saat kau berorasi, dan akan termenung diam merasakan emosi lagu yang menjeritkan isi hati mereka, saat kau bernyanyi.

Jembrana adalah gudangnya musik indie Bali (setelah KUTA tentunya)
Kesannya narsis juga ya, membangga-banggakan kabupaten sendiri, he...
Apa alasannya?!

Pertama, disinilah lahir Eka Rock, penggaruk bass Superman Is Dead. Kedua, disini lahir Negara Rocks Record. Ketiga, Negara Rocks Record ini mengandung berbagai jenis musik. Punk, emocore, metal, rock lawas, rockabilly, bahkan di audisi Negara Rocks 2 telah lolos band bergenre powerpop synth! Sungguh manis, Sementara Pee Wee Gaskins dihujat diluar sana, disini synth dihargai betul, dan aku bangga karenanya.
Yeah!!!
Al Capone
Sebuah judul yang provokatif, tapi ini bukan dalam artian si modern NATO bertemu suku Badui dan berperang, atau bukan pula Al Capone bertemu dengan Laskar Bali.

Lalu siapa bertemu siapa?


Penggemar dan penggiat musik modern, bertemu dengan penjaga tradisi gamelan Bali. Dua genre yang terlalu berbeda, jauh sekali perbedaan antara Beast n The Harlot, dengan -uhm...- Mejangeran!!! Tapi kedua gank ini memiliki satu persamaan, persamaan yang mencari jalan tengah diantara segala perbedaan genre itu menjadi sebuah kekuatan, dengan berbensinkan kreatifitas karena: mereka sama-sama pewaris tradisi tanah ber-bhhinneka nusantara ini!
Anyway...
Thanks God, for Youtube...
Diawali dengan berdiri di tengah pantai, sendiri. Tapi anehnya tak terdengar suara laut atau ombak sedikitpun. Aku berdiri, tanpa senyum, juga tanpa terlihat emosi di bibir, tanpa raut wajah apapun. Kosong saja.

Yang terdengar hanya suara piano tua. Tidak berdenting nyaring bernada tinggi, hanya membuka kunci lebar… Jenggg….. bukan Tinggg… memberi nuansa kosong yang anggun dan pedih, meskipun tanpa satupun kunci minor. Tapi nuansa yang ia berikan berkata: ini bukan keceriaan… 


Suara itu mendengung di kepalaku. ngungg… ngungg… pelan-pelan suara anggun piano yang sepi itu diikuti dengan suara merdu, nyaris seperti suara malaikat…
Ini adalah salinan asli dari surat wasiat yang dari Bung Hatta kepada Guntur, putra sulung Soekarno.


Soekarno dan Hatta, dua negarawan

* * *
Anakda Goentoer Sukarnoputa,
Cempaka Putih Barat I/2
Jakarta Pusat
PANCASILA 

Dekat pada akhir bulan Mei 1945 Dr. Radjiman Wedyoningrat, ketua Panitia Penyelidik Usaha – Usaha Kemerdekaan Indonesia membuka sidang Panitia itu dengan mengemukakan pertanyaan kepada rapat : “Negara Indonesia Merdeka” yang kita bangun itu, apa dasarnya? Kebanyakan anggota tidak mau menjawab pertanyaan itu karena takut pertanyaan itu akan menimbulkan persoalan filosofi yang akan berpanjang – panjang. Mereka langsung membicarakan soal Undang – Undang Dasar. Salah seorang dari para anggota Panitia Penyelidik Usaha – Usaha Kemerdekaan Indonesia itu, yang menjawab pertanyaan itu ialah Bung Karno, yang mengucapkan pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945, yang berjudul Pancasila, lima sila, yang lamanya kira – kira satu jam. Pidato itu menarik perhatian anggota Panitia dan disambut dengan tepuk tangan yang riuh. (untuk membaca isi pidato yang diucapkan Bung Karno itu, klik disini) Sesudah itu sidang mengangkat suatu Panitia kecil untuk merumuskan kembali Pancasila yang diucapkan Bung Karno itu. Di antara Panitia kecil itu dipilih lagi 9 orang yang akan melaksanakan tugas itu, yaitu :
...klik disini untuk lihat bagian satu
...klik disini untuk lihat bagian dua

Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.

Justru inilah prinsip-prinsip saya yang kedua. Inilah filosofiseli principle yang nomor dua; yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakan “internasionalisme”. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud kosmopolitisme, yang tidak mau akan adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika dan lain-lainnya.

...klik disini untuk melihat bagian satu
...klik disini utuk melihat bagian tiga

Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal “merdeka” maka sekarang yang bicarakan tentang hal dasar.

Paduka tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang Paduka tuan Ketua kehendaki! Paduka tuan Ketua minta dasar, minta philosophisce grondslag, atau jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu “Weltanschauung”, di atas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.
..ini adalah sepertiga dari keseluruhan pidato

Paduka tuan Ketua yang mulia!

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. Saya akan menepati permintaan Paduka tuan Ketua yan mulia. Apakah permintan Paduka tuan Ketua yang mulia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepad sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.
SO7 akan tour keliling dunia dengan perahu layar???
SO7 mengadakan jalan-jalan pesiar dengan sheilaganknya yang paling setia??? atau...
SO7 tak tahan lagi semua albumnya dikacangi pemirsa (yang lebih memilih SM*SH dan wali) dan memilih kabur dari Indonesia, dan memilih menjadi pelaut???

Salah...  
salah besar... ini saya bold.
kali ini saya capslock: SALAH BESAR!!!

Sheila on 7, il fenomeno musik Indonesia itu kembali ke hadirat kita semua, para pecinta musik, dengan bendera perang baru: BERLAYAR titelnya.

Hmm.... kenapa albumnya bertajuk berlayar? Seru kah? Atau seperti biasa, kehilangan taji lamanya?
Guys, kali ini album ini istimewa.... untuk anda, untuk saya, untuk setiap orang yang merasa bahwa Sheila bukanlah sekedar band, tapi juga bagian dari proses tumbuh kembang dalam perjalanan hidup kita semua :D .
Seriously, apa yang kalian pikir saat mendengar kata "biografi"? :D
Kalau aku, kubayangkan sebuah buku tebal, dengan hard cover. Judulnya tentu berbahasa tinggi, bahasa filsuf-filsufan. Soeharto: Fikiran, Perkataan, dan Perbuatan Saya, Ani Yudhoyono: Putri Pejuang atau judul keren lain. Isinya kalau bisa gambarnya minim -kalaupun ada itu foto keluarga besar resmi yang memakai batik- dan sekali lagi, bahasanya dewa! Pokoknya sebanyak mungkin berfilsafat, kalau bisa istilahnya import.

Tapi ini biografi, kok bentuknya komik? Bahasanya komikal pula. Selain itu sampulnya nggak gagah, malah membuat tersenyum. Judulnya pun nggak pakai filsafat: Gus Dur Van Jombang

Holyshit bukan?
Bagaimana mungkin aku tak menghampiri rak tempat buku mencolok mata ini bertengger di Gramedia?  

Pertama-tama, buku ini jaminan mutu, setidaknya bagiku. Mengapa? Bagi orang yang mengenal sosok Dewa Made Cakrabuana Aristokra akan tahu pasti bahwa ia tak mudah mengeluarkan uang di Gramedia. Kalau ia sampai mengeluarkan uang disana, sudah pasti buku itu luarbiasa uniknya, menghantui mimpi, otak, dan kartu ATM BNI-nya setiap malam.
Fuckyeah...

Bentuk fisiknya...
Satu kata: eye catching!
Bagaimana tidak eye catching, pertama, bentuk bukunya memanjang, khas komik Beni Mice; kedua sampulnya kartun, Gus Dur memakai pakaian shaolin sedang melakukan fly kick, dengan kipas ditangan kanan, dan jempol membentuk tanda "oke" di tangan kiri. Sampulnya saja sudah gila!; ketiga, tokoh yang dibahas adalah Gus Dur, dan setiap buku bertema tokoh ini berarti eye catching untukku (yang satu ini alasan yang sifatnya personal, haha!)

Ini penampakan sampulnya....

"sampul komik biografi Gusdur Van Jombang" 


Isi bukunya...
Isinya cukup padat dan menyeluruh tentang kisah Gus Dur sejak suasana kelahirannya sampai ilustrasi pemakamannya.

Tunggu dulu....
Biografi tokoh sekaliber Gus Dur kok dituang ke sebuah komik tipis???
Yakin bisa padat berisi?
I mean, bahkan kalau semua gambar di komik ini dihapus dan dijadikan tulisan penuh, plus font dan spasi seminim mungkin, buku dengan ketebalan segini tak akan cukup untuk menceritakan kisah bapak bangsa unik satu ini...

Jadi, segera saja di kubuka sampulnya di rak buku Gramedia itu...

Wusss........


Hebat!


Saking hebatnya, memunculkan suatu sensasi seperti orgasme yang terjadi pada buku bagus dengan pembacanya. Orgasme kosmik itu terjadi saat kita bergelut ditengah halaman buku dengan serius dan antusian menikmati tiap lembarnya. Namun pada akhirnya malah diserang kesedihan + kehilangan saat buku itu selesai dibaca. Siapa bilang orgasme tidak bisa terjadi di toko buku?

Kepuasan itu kurasakan saat membacanya. Puas sebagai seorang penikmat komik, puas sebagai pecinta Gus Dur dan warisannya, puas sebagai pengunjung gramedia yang jarang membeli buku dan akhirnya memutuskan bahwa uangku pantas untuk menebus buku ini. Ilustrasinya bikin jatuh cinta, tarikan garis gambarnya sederhana dan jenaka! Karikatur dan dialognya cerdas dan berisi,  leluconnya bukan slapstick murahan seperti Jackass dimana lucu berarti orang lain terpeleset kulit pisang atau jatuh dari motor dengan bodoh. Leluconnya hadir lewat gambar dan dialog cerdas, secerdas lelucon Sponge Bob.


* * *

Hmm..... Gus Dur... 
kalau kau membaca buku ini, kau pasti akan tersenyum. Bahkan tertawa! Aku tau kau suka sekali lelucon (sebagaimana leluconmu pada tulisan disini)

Ah sudahlah, aku hentikan saja tulisan ini disini, sebelum aku semaki larut merindukan sosokmu sebagaiman semua masyarakat merindukan seorang Gus Dur di tengah angin marjinal di negeri ini. Kau memang tak kan hidup lagi, Gus, tapi kau tak pernah mati. Kau ada, menyala-nyala di dada muda Indonesia bersama Bung Karno, Pancasila, dan semua harapan!

(awalnya tulisan ini ditulis dengan semangat '45
...tapi akhirnya malah jadi galau
"Gus, republik ini kau tinggalkan terlalu cepat!")
Tulisan yang sesuai judulnya...
"baca, dan tersenyumlah...." 

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".


Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab,
"Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.


Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,
"Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja gelap itu ada."

Mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak."

"Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna."

"Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab,
"Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan."

"Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Dan mahasiswa itu adalah,

Albert Einstein. 😃





(copy from my Junior High junior...)

Einstein's Facts:
  • Einstein seorang Yahudi, yang lari dari kekejaman Nazi nya Hitler
  • Beda dengan Stephen Hawking yang semakin menihilkan peran Tuhan, Albert justru semakin kagum pada Tuhan setiap mengetahui rahasia alam baru melalui fisika.
  • Katanya, Tuhan bukan mengulurkan tanganNya langsung dalam proses ciptaanNya. Tuhan membuat hukum yang begitu harmonis, sehingga semua berjalan begitu mengagumkan.
  • Karena itu, Einstein mengaku, semakin ia mengetahui rahasia alam melalui fisika, semakin ia kagum pada Tuhan yang menciptakan hukum itu :) 
  • Dibawah ini ada kata-kata Einstein yang penting. Terlebih dahulu, buka pikiranmu, dan biarkan ia independen saat membaca tulisan ini, agar bisa jadi renungan....
  • ....... (memberi efek misterius...) 

"Ilmuan seperti saya, berusaha memahami Tuhan yang layaknya memanjat sebuah gunung. Kami memanjat dari sisi yang kami pilih. Namun, begitu tiba di puncak, disana sudah ada para pendaki yang telah memanjat terlebih dahulu. Sayangnya, mereka tidak mau berbagi tempat dipuncak sana, dan menganggap cara kami salah..." ;)
*  *  *
Valentine boleh jadi hari kasih sayang...
Budaya dunia, yang sayangnya banyak dipandang remeh hanya karena bahasa "Valentine" tak ada di bahasa keyakinan mereka
... dasar orang yang selalu ribut tentang "definisi", dan bukan "esensi" :x

tapi salah muda-mudi juga sih, menjadikan valentine sebagai legitimasi pemaksaan hasrat pada pasangannya... dengan alasan "pembuktian cinta"
dasar gendeng!!!

valentine.... 


Selamat kepada Superman Is Dead! :D
Band yang pertama kali ku gandrungi sejak kelas 2 SMP berkat racun Ida Bagus Dwi Anggara Putra itu kini sudah punya sejuta lebih fans facebook...




Band yang dulu kuyanyikan lagunya di panggung kecil SMP 1 Negara kini telah menyanyi di panggung Warped Tour, festival raksasa USA,
bahkan band Asia yang pernah main disana bisa dihitung sebelah jari...

Band yang dulu panggungnya dibakar, dan personilnya dilempari botol aqua berisi air kencing itu kini telah meraih peringkat 14 versi Billboard Internasional!
Billboard... for the God sake...
bahkan jadi artis Indonesia kedua setelah Anggun yang pernah berada di chart keramat itu.

Ada secarik kertas bertuliskan spidol warna-warni yang menempel di tembok kamar kost ku...
Kertas kenangan, berisi coretan kesan teman-teman sesama penghuni kelas 2A.

"Pelawak, jago main gitar, jambul..."
"Konyol abisss...!!!"
"Dewa orangnya pinter ngelucu... seneng deh selalu...."
...
hmmm....
seneng deh selalu?

Terima kasih teman sekelas, :) 
I hope so...
but I don't!

JRX, drummer Superman is Dead, aktifis kemanusiaan, sekaligus owner Twice Bar (tempat ziarah tiap anak punk bila berkunjung ke Bali) itu pernah membuat sebuah notes facebook. Apa isinya? Isinya tentang sepuluh lagu yang paling menginspirasi hidupnya.

Nah, lagu ini, When the Angels Sing termasuk di notes itu.

And here we go...

Hari itu masih pagi!

Sebagaimana pasar selayaknya, dimana para pedagang baru buka kios dan menata dagangannya secantik mungkin. Seorang ibu yang kelihatannya sudah usai membuka kiosnya kini duduk, lelah. Ibu ini sedang hamil delapan bulan, ‘masih sebulan lebih sepuluh hari,’ begitu mungkin batinnya sehingga tetap berdagang di hari itu, lagipula perutnya tidak terlalu menggelembung. Di sekitarnya ada ratusan pedagang pasar sederhana Kota Negara, Jembrana yang melaksanakan rutinitas pagi mereka. Yah, another day di sebuah pasar yang bisa terjadi dimana saja. :$ 

Tapi ternyata itu bukan hari biasa!