Blogger Widgets

DewaCakrabuana

"... demi Bung Karno, Jembrana, dan Rock n Roll!"

Hantu Masa Kecil

Melihat kawanku punya Playstation seri terbaru? Ah... tak membuatku iri! Melihat kawanku punya motor baru dengan segala baut posh? Ah... tak membangkitkan seleraku.

Tapi melihat satu benda ini? Seketika liurku menetes.

Yeah.... Korg ToneWorks AX1500g adalah hantu masa kecilku. Sampai sekarang ia masih menghantui!

22 Desember, Hari Byang

Ah... yang membuatku heran adalah ternyata ini sudah tanggal tua di bulan yang paling tua: 22 Desember, di penghujung tahun 2013. Tahun ini tensinya tinggi, perputarannya cepat. "Tahu-tahu 2013 sudah mau berakhir saja," kutukku dalam hati.

Hari Ibu?
Kulirik media-media sosial yang terinstal ramai di handphone ku. Entah twitter, facebook, path, sampai recent update di BBM kompak bersekongkol: mengingatkanku akan hari apa hari ini! Hari ini aku bisa melihat paras rupa ibu-ibu sahabatku, yang ramai mengucapkan selamat hari ibu sambil mengganti foto profil mereka. Senyum aku dibuatnya, hehe wajah mereka banyak yang mirip!

Ahh.... ibuku! Byang apa kabarnya ya?

Ia pasti sedang berjibaku di Pasar Negara, dimana ia menjajakan barang sejak sebelum dekade 90an sampai..., entah sampai kapan nanti. Ia orang yang sederhana, terlampau sederhana. Ia takkan mengerti kenapa hari ini disebut hari ibu.

Kenapa pula tanggal 22 di bulan Desember disebut hari ibu?
Jawaban paling sah, ya karena dulu di tahun 1959 Bung Karno mendekritkan begitu.



Tapi ibuku yang sederhana takkan peduli. Ia hanya peduli pada keluarganya. 

Mungkin ia hanya membatin, "Berapa dagangan ini harus laku agar anak-anakku bisa membayar SPP-nya di TK Kristen paling mahal di Kabupaten Jembrana." Ia percaya pada Aji yang memegang teguh prinsip bahwa pendidikan adalah pembebasan, bahwa anak-anak mereka harus mendapatkan pendidikan terbaik.
Dan untuk anak sekolah, pasti ada rejeki.

Byang ku takkan peduli pada seremoni Hari Ibu ini.

Ia hanya peduli pada berapa dagangannya harus laku agar biaya semester anak sulungnya di Fakultas Kedokteran dan biaya hidup putra kesayangannya di STAN Jakarta bisa terpenuhi. Itulah yang kadang membuat hatiku ngilu saat menyantap dada ayam lalapan skala besar sendirian dekat kampus, sementara di rumah sana mereka takkan pernah egois makan dada ayam sendiri, seperti yang kulakukan.

Hari Ibu hanya satu hari biasa buat Byang.

Anak-anak parasit penggerogot tubuh inang ini sudah bisa mandiri, menghasilkan uang sendiri. Sepertinya ia masih saja tak peduli. Kini yang ia pedulikan hanyalah kapan anak perempuannya yang baru nikah itu berkunjung pulang. Sekadar diukur tensi saja Byang akan cukup senang. Atau kapan anak lelaki jagoannya pulang berlibur dari Kupang. Bukan untuk apa-apa, sekedar ia buatkan rujak ataupun belikan sate Men Yasa yang anak itu gemari sejak masih 7 tahunan. Anaknya lahap makan adalah pemandangan yang lebih berharga buatnya dibandingkan Israel berdamai dengan Hamas. Byang tak peduli pada perdamaian dunia. Ia peduli pada perut anaknya yang bandel-bandel.

Hari Ibu...

Kan ku telepon Byang. Meski ia akan selalu mengulang pertanyaan yang sama setiap kali, "Bo ngajeng De?" Sudahkah kau makan, De? Mungkin ia tak tahu harus berkata apa saat ditelepon. Mungkin banyak yang ingin ia katakan, tapi hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya. Mungkin juga hanya itulah yang mengganjal di hatinya, sebuah pertanyaan, "Sudah makankah anakku disana? Aku tak bisa memastikannya karena kami begitu jauh, dan aku tak bisa mengisi nasi di piringnya seperti biasa."

Ah Byang... 
Aku juga bingung.
Mengapa aku menulis semua ini di blog. Lagipula engkau takkan pernah membuka browser dan membaca blog ini. Pertama, kau tak peduli benda apa pula itu browser. Kedua, yang kau pedulikan adalah berapa lakunya barang dagangan ini, agar bisa jadi roket pendorong anak-anakmu agar bisa sampai di tujuan hidupnya.

Selalu sehat kau disana... Byang! :)


Hari - Hari Terakhir Bung Karno (bagian 2-habis)

Belum membaca bagian pertama dari kisah ini? Silakan klik disini
Cobalah, baca sambil dengar lagu ini. Lagu ini dibuat oleh Guntur Soekarnoputra tentang Ibundanya.



Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati. Ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tahu wajah sang ayah bengkak-bengkak dan sulit berdiri. Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis.

Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. “Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden,” kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya.

Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya.

“Lho, Mbak Rachma ada apa?” tanya Bu Tien, kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien tersentuh dan menggenggam tangan Rachma. Sambil menggenggamnya, Ibu Tien mengantarkan Rachma ke ruang kerja Pak Harto.

Hari - Hari Terakhir Bung Karno (bagian 1)



Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana Merdeka dalam waktu 2 x 24 jam.

Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno juga tak bersahabat.

“Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!” tegas mereka.

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu disana.

“Mana kakak-kakakmu?” tanya Bung Karno. Guruh menoleh ke arah bapaknya lantas berkata, “Mereka pergi ke rumah Ibu”. Rumah ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru.

Bung Karno berkata lagi, “Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu. Jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara,” kata Bung Karno, lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana.

Mereka Butuh Kesempatan, Bukan Belas Kasihan

Apa yang muncul di kepalamu ketika melihat orang yang pertumbuhan kakinya tak sempurna, berjalan dengan kursi beroda, melintas di sebelahmu saat kau asik belanja sayur di pasar? Entah bagaimana reaksimu, tapi kubayangkan akan banyak orang bengong, heran, kagum sampai membantu mendorong kursi, atau bahkan ada pengunjung pasar bergumam, “ngapain sih, susah-susah kesini, di rumah aja diem.”

Cerita-cerita semacam tadi banyak kudengar di sini, di sebuah yayasan yang menaungi saudara-saudara “sekilas-tampak-berbeda” kita di sudut sejuk Tampak Siring, Gianyar Bali. Spesial tentang gumaman pengunjung pasar tadi dikisahkan oleh Bli Gusti, salah satu warga disana dengan semangat paling besar yang pernah kulihat. Kebetulan, aku berkesempatan menjalani satu babak hidup untuk bersentuhan langsung dengan mereka. Hidup ditengah mereka selama dua hari satu malam, dua sampai tiga Maret tahun 2013.

Dan tentang semua kisah diatas tadi, percaya atau tidak, kawanku sekalian, mereka ceritakan padaku tanpa kesan duka. Sambil tersenyum pula!
* * *

Piye Kabare, Enak Jamanku, Toh?

"Ini bukunya"
Aku sedang duduk malas. Melepas lelah sepulang kerja.
Televisi disebelahku sedang menayangkan TVOne. Selayaknya TVOne, di layar kini tampak seorang presenter yang sedang mewawancarai memandu perdebatan antara beberapa narasumber. 

Nada bicara mereka mulai meninggi, saling berbantahan dengan seru. Mereka sedang membahas kontroversi "Soeharto" yang akan dijadikan nama sebuah jalan arteri di ibukota.

"Mereka lucu, sebenarnya," aku terkekeh dalam hati.

Bagaimana tidak lucu, coba!
Mereka sedang mewujudkan hal yang sebenarnya paling tidak disukai Pak Harto, sebagaimana yang beliau paparkan pada halaman-halaman awal biografinya. Yeah, Pak Harto benci kontroversi! 

"Kontroversi itu bisa menimbulkan dua kelompok, ada yang setuju dan ada pula yang tidak. Kedua pihak ini akan saling mempertahankan pendapatnya, bisa sampai gontok-gontokan. Nah disana muncul yang namanya pro dan kontra. Pro-kontra itu berbahaya, bisa mengganggu stabilitas nasional. Kalau stabilitas terganggu, kita tidak bisa membangun."

Begitu kira-kira kata Pak Harto di bukunya. Pola pikir "anti-kontroversi" itu memberi pola jelas atas semua pondasi pembangunan di era Orde Baru, bukan? Penghilangan (penangkapan, lalu pelenyapan) para aktivis, pembredelan media pengkritik pemerintah, itu hanyalah dua contoh kecil. Belum lagi inovasi semacam Departemen Penerangan, Petrus, sampai Dwi Fungsi ABRI. Pokoknya, stabilitas adalah mutlak menurut Pak Harto. Harga mati! Titik.

Oh, anyway, buku ini sebenarnya bagus. Memang tak sekelas buku terbaik Bung Karno, biografi Pak Harto ini memang dipenuhi jilatan-jilatan basah sang penulis pada pak presiden. Tapi aku suka membacanya.

Oke, lanjut.
Dimanakah aku berdiri -di kelompok pro atau kontra- atas pengusulan nama jalan Pak Harto ini?

Bung Karno Bukan Diktator

Aku jarang menyadur tulisan dari luar,
tapi kalau aku menyadurnya, berarti ia luarbiasa menancap!
Awas, berbeda betul dengan buku pelajaran sejarah sekolahan...


"berusaha dicap diktator"
Selama ini, banyak orang secara sembrono mencap Bung Karno sebagai diktator. Salah satu dalihnya adalah  gelar ‘Presiden Seumur Hidup’ yang disandang oleh Bung Karno. Dengan gelar itu, bagi sebagian orang, Bung Karno sudah bertindak tak ubahnya raja-raja di jaman feodal.

Namun, sebelum ikut-ikutan menghakimi Bung Karno sebagai diktator, ada baiknya kita menelusuri dua hal ini.

Pertama, latar belakang lahirnya gelar Presiden Seumur Hidup itu; siapa pengusulnya, apa motifnya, dan apa respon Bung Karno.

Kedua, seperti apa konteks situasi politik saat itu sehingga Bung Karno menerima gelar itu.

Untuk menjawab yang pertama, saya kira penjelasan AM Hanafie, salah seorang tokoh angkatan 45 (mantan aktivis Menteng 31), dalam bukunya, AM Hanafi Menggugat; Kudeta Jend. Suharto Dari Gestapu Ke Supersemar, sangat membantu. Dalam buku yang terbit tahun 1998 lalu itu nyempil catatan Hanafie mengenai proposal Presiden Seumur Hidup itu.
(... AM Hanafie, AM disini adalah nama pengganti, Anak Marhaen Hanafie. Yeah, ia mengganti namanya agar revolusioner. Hal ini memang jamak kala itu. Salah satunya DN Aidit, selengkapnya ada di tulisan ini. -cakrabuana)

Menurut AM Hanafi, ide untuk menjadikan Bung Karno sebagai Presiden Seumur Hidup berasal dari tokoh-tokoh Angkatan 45, terutama AM Hanafi sendiri dan Chaerul Saleh (Ketua MPRS saat itu). Usul itu kemudian dilempar di Sidang Umum ke-II MPRS di Bandung, Jawa Barat, tahun 1963.

Film: Petualangan Shinchan yang Tak Biasanya

Jadi...

Saat itu kami sedang duduk-duduk di kamarku. Duduk manis selonjoran di depan televisi, di suatu malam.

Kata "kami" disini merujuk pada tiga pemuda Bali yang sedang berdinas di Kota Kupang; aku, Legawa, dan Diantara. Bersama delapan pemuda Bali lain, kami dikirim kesini konon dengan embel-embel yang sok keren:
"demi mengamankan penerimaan negara!"

"daripada planga-plongo ndak jelas membahas mau makan dimana, puter aja film Shinchan ah," begitu aku membatin. "Biar kocak!"

... dan kupilih saja film yang memang belum sempat kutonton: Shinchan - The Adult Empire Strikes Back. Biar suasana jadi hidup, kami perlu hal-hal lucu. Apa yang lebih kocak dari si Nohara Shinosuke? Anak itu belum pernah mengecewakanku dalam urusan pengkaryaan suasana ceria.

Setidaknya sejauh ini belum.

Cerita Tentang Malam Terakhir di D'Palm

"Hmm... ternyata ini sudah pertengahan duaribu tigabelas," aku bergumam sendiri

Tahun ini...

Tahun 2013 sepertinya bertekad untuk jadi tahun yang penuh warna untukku. Dan sepertinya tekadnya itu kuat sekali. Bukan main! Entah sudah berapa kasur yang kutiduri silih berganti sejak awal tahun ini. Terlalu sering. Dari kasur ke kasur... dari bantal ke bantal...
...dari satu langit-langit sepi saat lampu kamar telah mati, ke langit-langit sepi yang lain.

Yeah, siapa yang tak melayang-layang daya pikirnya, saat sendiri di kamar, lampu telah mati, namun hati masih menyala-nyala penuh tanda tanya sampai tanda seru, -sambil menatapi langit-langit diatas kepalanya? Aku suka merasakan langit di pagi dan sore hari sebagaimana kusuka pula menatapi langit-langit di detik menit sebelum terlelap pulas.

Sayangnya, langit-langit itu seringkali berubah-ubah.

Kau tau, belum lama bercengkrama dengan yang satu, langit-langit yang lain sudah menanti untuk ditatapi. Tidurku senantiasa berpindah tempat sejak awal tahun ini. Amat cepat, terlalu cepat malah, ahh! Dunia di hadapanku sedang berotasi dengan kecepatan tinggi.

Aku lelah...
Terlalu payah...

Tapi aku tak mau kalah.

"Ternyata Sudah Sepuluh Tahun..."

Siang ini tak jauh beda dengan siang-siang hari kerja lainnya...

Aku sedang  duduk disini, di meja kerja ku.
Kadang, duduk disini membuatku merasa menjadi sebuah layar di bioskop tua. Dihadapku berjejer korsi-korsi plus senderan empuk, membentuk kolom dengan lorong di tengahnya; persis bioskop kan?! 

"layar tancap tua..."
Disanalah duduk manusia-manusia letih setengah ngantuk, setengah bosan, dan entah setengah apa lagi. Tapi anehnya mereka masih saja menghadap ke depan. Menghadap ke depan, berarti menghadap ke arahku.

Seringkali begitu perasaanku saat menjaga loket di kantor ini: perasaan sebagai sebuah layar tancap tua di hadapan penonton yang bosan! :o

Tapi hari ini adalah hari yang spesial, paling tidak buat dua sahabat masa kecil ku. Hari ini, enam Februari, adalah hari ulang tahun mereka. 

They Said...

“Jangan menjadi orang ketiga di artikelmu. Jadi pemeran utamanya. Karena orang masuk ke sini ingin merasakan menjadi dirimu, dengan membaca artikelmu..." (Maha Dwija Santya)


“Jangan bikin kepalamu jadi perpustakaan..” (Svami Vivekananda & Bung Karno)

Persetan dengan uang, traffic, populer, dkk! Blog ini hanya tempat pribadiku untuk berteriak"

“suatu saat nanti, saya akan baca blog ini lagi dan berfikir: ini yang saya pikirkan saat itu..."

Komentar Terbaru

Here're My Friends!

Ikuti Blog Ini...