September 2013 - Nasionalis Rock n Roll

Wednesday, September 18, 2013

Hari - Hari Terakhir Bung Karno (bagian 2-habis)

September 18, 2013 3
Hari - Hari Terakhir Bung Karno (bagian 2-habis)
Belum membaca bagian pertama dari kisah ini? Silakan klik disini
Cobalah, baca sambil dengar lagu ini. Lagu ini dibuat oleh Guntur Soekarnoputra tentang Ibundanya.



Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati. Ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tahu wajah sang ayah bengkak-bengkak dan sulit berdiri. Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis.

Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. “Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden,” kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya.

Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya.

“Lho, Mbak Rachma ada apa?” tanya Bu Tien, kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien tersentuh dan menggenggam tangan Rachma. Sambil menggenggamnya, Ibu Tien mengantarkan Rachma ke ruang kerja Pak Harto.

Hari - Hari Terakhir Bung Karno (bagian 1)

September 18, 2013 4
Hari - Hari Terakhir Bung Karno (bagian 1)
Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana Merdeka dalam waktu 2 x 24 jam.

Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno juga tak bersahabat.

“Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!” tegas mereka.

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu disana.

“Mana kakak-kakakmu?” tanya Bung Karno. Guruh menoleh ke arah bapaknya lantas berkata, “Mereka pergi ke rumah Ibu”. Rumah ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru.

Bung Karno berkata lagi, “Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu. Jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara,” kata Bung Karno, lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana.

Saturday, September 07, 2013

Mereka Butuh Kesempatan, Bukan Belas Kasihan

September 07, 2013 2
Mereka Butuh Kesempatan, Bukan Belas Kasihan
Apa yang muncul di kepalamu ketika melihat orang yang pertumbuhan kakinya tak sempurna, berjalan dengan kursi beroda, melintas di sebelahmu saat kau asik belanja sayur di pasar? Entah bagaimana reaksimu, tapi kubayangkan akan banyak orang bengong, heran, kagum sampai membantu mendorong kursi, atau bahkan ada pengunjung pasar bergumam, “ngapain sih, susah-susah kesini, di rumah aja diem.”

Cerita-cerita semacam tadi banyak kudengar di sini, di sebuah yayasan yang menaungi saudara-saudara “sekilas-tampak-berbeda” kita di sudut sejuk Tampak Siring, Gianyar Bali. Spesial tentang gumaman pengunjung pasar tadi dikisahkan oleh Bli Gusti, salah satu warga disana dengan semangat paling besar yang pernah kulihat. Kebetulan, aku berkesempatan menjalani satu babak hidup untuk bersentuhan langsung dengan mereka. Hidup ditengah mereka selama dua hari satu malam, dua sampai tiga Maret tahun 2013.

Dan tentang semua kisah diatas tadi, percaya atau tidak, kawanku sekalian, mereka ceritakan padaku tanpa kesan duka. Sambil tersenyum pula!
* * *

Friday, September 06, 2013

Piye Kabare, Enak Jamanku, Toh?

September 06, 2013 10
Piye Kabare, Enak Jamanku, Toh?
"Ini bukunya"
Aku sedang duduk malas. Melepas lelah sepulang kerja.
Televisi disebelahku sedang menayangkan TVOne. Selayaknya TVOne, di layar kini tampak seorang presenter yang sedang mewawancarai memandu perdebatan antara beberapa narasumber. 

Nada bicara mereka mulai meninggi, saling berbantahan dengan seru. Mereka sedang membahas kontroversi "Soeharto" yang akan dijadikan nama sebuah jalan arteri di ibukota.

"Mereka lucu, sebenarnya," aku terkekeh dalam hati.

Bagaimana tidak lucu, coba!
Mereka sedang mewujudkan hal yang sebenarnya paling tidak disukai Pak Harto, sebagaimana yang beliau paparkan pada halaman-halaman awal biografinya. Yeah, Pak Harto benci kontroversi! 

"Kontroversi itu bisa menimbulkan dua kelompok, ada yang setuju dan ada pula yang tidak. Kedua pihak ini akan saling mempertahankan pendapatnya, bisa sampai gontok-gontokan. Nah disana muncul yang namanya pro dan kontra. Pro-kontra itu berbahaya, bisa mengganggu stabilitas nasional. Kalau stabilitas terganggu, kita tidak bisa membangun."

Begitu kira-kira kata Pak Harto di bukunya. Pola pikir "anti-kontroversi" itu memberi pola jelas atas semua pondasi pembangunan di era Orde Baru, bukan? Penghilangan (penangkapan, lalu pelenyapan) para aktivis, pembredelan media pengkritik pemerintah, itu hanyalah dua contoh kecil. Belum lagi inovasi semacam Departemen Penerangan, Petrus, sampai Dwi Fungsi ABRI. Pokoknya, stabilitas adalah mutlak menurut Pak Harto. Harga mati! Titik.

Oh, anyway, buku ini sebenarnya bagus. Memang tak sekelas buku terbaik Bung Karno, biografi Pak Harto ini memang dipenuhi jilatan-jilatan basah sang penulis pada pak presiden. Tapi aku suka membacanya.

Oke, lanjut.
Dimanakah aku berdiri -di kelompok pro atau kontra- atas pengusulan nama jalan Pak Harto ini?