Siwaratri...

Ahh... hari raya ini adalah yang keren di benak anak muda. Salah satu yang paling keren, mungkin. Di hari raya Siwaratri, kawula muda bisa secara sah melakukan hal yang biasanya ditabukan: begadang beramai-ramai!  

Metode begadangnya bagaimana?

Terserah masing-masing! Ada yang duduk-duduk melingkar, saling bertukar cerita bersama kawan dan kerabat. Ada yang duduk manis, semalam suntuk ngobrol dengan kekasihnya. Aku biasanya menjalankan Siwaratri di Pura Jagadnatha Jembrana semalaman. Yang pasti, sekitar jam satu usai sembahyang tengah malam, Pasar Senggol Negara akan ramai diserbu umat-umat kelaparan.

Malam Renungan Siwa...
Itu jawaban paling umum saat seseorang ditanyai, "apa sih makna Siwaratri?" Jawaban yang lebih umum lagi adalah, "Siwaratri itu ya malam peleburan dosa, donk!"

Yap, menurut mereka, tak hanya jaje begine dan pisang sisa banten yang bisa dijadikan leburan. Dosa juga bisa.

Tunggu dulu.
Dosa? Dilebur?

Kalau dosa bisa dilebur, kenapa pula Panca Pandawa yang begitu banyak berbuat dharma malah sempat merasakan neraka saat episode "Mendaki Gunung Bersama Seekor Anjing"? Benarkah konsep Siwaratri demikian?
Sabtu pagi, nak lingsir menyampaikan salam pagi bagi jejaka rantau yang baru bangun. Diingatkan untuk senantiasa bermanfaat.

Jadilah Sabtu kemaren jejaka itu mencuci pakaian, pergi berburu baju batik, ke bengkel menyervis motornya, sampai pergi ke tempat cuci motor...

suksma, Mpu...



Aku lupa hari itu hari apa. Entah Senin atau Selasa.

Hari itu kami janjian untuk pergi karaoke bersama. 

Seriously, karoke disini berarti benar-benar bernyanyi. Bukan karoke aneh-aneh, apalagi karoke plus-plus. Kami hanya pergi ke karoke keluarga NAV. 

Kami?
Yup! Kata "kami" disini mengacu pada sekelompok kawan lama masa sekolahan, yang entah kenapa setelah empat tahun kelulusan SMA berlalu, masih saja suka nongkrong sama-sama.

Kadang-kadang orang melihat ini sebagai keanehan. Seperti misalnya suatu ketika saat kami makan dan ngobrol di McDonald Gatsu.

"Ih Bojes," seru seorang anak perempuan -ternyata teman SMA- menyapa kami yang sedang serius menyusun french fries ke dalam burger. "Masih aja kalian yah, mainnya sama ini-ini aja," sambungnya sambil tergelak.

Yeah... itulah kami. Masih bersahabat sampai sekarang.

Sampai saat ini aku sedang makan bersama Widya, kawan SMA ku. Kulirik penunjuk waktu di handphone. Sudah jam 9.45 petang. Aku dan Widya buru-buru menghabiskan hidangan yang kami pesan di AW. Sebelum bernyanyi tentu perlu isi perut, apalagi harga makanan di dalam ruang karaoke sedikit diluar azas kepatutan. 

"Malunan be ci mecelep, Wa... Cang nyusul njep. Cang ngajak Trisna," begitu balasan pesan singkat Adit saat kutanya mengapa ia belum muncul juga. Baiklah kalau begitu, aku dan Widya pun bergegas masuk ke gedung NAV. Setelah berbincang-bincang memilih ruangan, kami pun segera memulai sesi karaoke.