Makna Siwaratri: Kita Semua Lubdaka

Siwaratri...

Ahh... hari raya ini adalah yang keren di benak anak muda. Salah satu yang paling keren, mungkin. Di hari raya Siwaratri, kawula muda bisa secara sah melakukan hal yang biasanya ditabukan: begadang beramai-ramai!  

Metode begadangnya bagaimana?

Terserah masing-masing! Ada yang duduk-duduk melingkar, saling bertukar cerita bersama kawan dan kerabat. Ada yang duduk manis, semalam suntuk ngobrol dengan kekasihnya. Aku biasanya menjalankan Siwaratri di Pura Jagadnatha Jembrana semalaman. Yang pasti, sekitar jam satu usai sembahyang tengah malam, Pasar Senggol Negara akan ramai diserbu umat-umat kelaparan.

Malam Renungan Siwa...
Itu jawaban paling umum saat seseorang ditanyai, "apa sih makna Siwaratri?" Jawaban yang lebih umum lagi adalah, "Siwaratri itu ya malam peleburan dosa, donk!"

Yap, menurut mereka, tak hanya jaje begine dan pisang sisa banten yang bisa dijadikan leburan. Dosa juga bisa.

Tunggu dulu.
Dosa? Dilebur?

Kalau dosa bisa dilebur, kenapa pula Panca Pandawa yang begitu banyak berbuat dharma malah sempat merasakan neraka saat episode "Mendaki Gunung Bersama Seekor Anjing"? Benarkah konsep Siwaratri demikian?

Kuingat saat itu awal tahun 2003. Sore hari gerimis kecil, aku sedang menyiapkan canang untuk bekal melaksanakan Siwaratri di SMP 1 Negara.

Saat itulah kutumpahkan penasaran tentang Siwaratri pada Aji.
Sebagai ayah dengan reputasi mengukir logo lidah Rolling Stones di tembok rumah, sekaligus orang yang dengan rapi menggarisbawahi alenia-alenia penting majalah Warta Hindu Dharma edisi 90an, ia adalah referensiku mengenai kerohanian sekaligus musik rock era 80an.

Dan di sanalah kisah ini berawal...

* * *

"Ji..." panggilku pelan membuka percakapan.

"Kalau Siwaratri bisa lebur dosa, kenapa Soeharto ndak ke Bali aja? Lumayan kan setelah banyak bunuh orang, tinggal begadang sehari. Beres. Dosa bersih!"

Aji senyum. Sambil berlagak misterius ia menuju rak buku agamanya.

"Ini baca dulu," beliau menyodorkan buku tipis bersampul hitam. SIWARATRIKALPA, judul buku itu kalau tidak salah.

"Agama itu penuh perlambang, De. Jangan diartikan secara harfiah," tutur Aji. "Bahaya kalau diartikan harfiah. Bisa-bisa malah keblinger. Begadang semalam eh ngira dosa seumur hidup bisa dihapus. Baca epos Mahabharata eh bisa ngira sah-sah saja bunuh guru, keluarga, kalau beda aliran. Bahaya kan?"

Aku manggut-manggut, dan mulai membaca buku itu.

Buku SIWARATRIKALPA ini diawali dengan sebuah kisah. Kisah yang telah dihafal dengan baik oleh siswa-siswa sekolah dasar seantero Bali.

Tersebutlah sesosok manusia. Lubdhaka namanya. Pekerjaan sehari-hari? Berlumuran darah, berlinangan dosa. Ia memburu hewan-hewan di hutan. 

Seketika pula para pembaca akan memvonisnya masuk neraka. Tapi terjadilah hal extraordinary. Suatu saat ia berburu di malam tilem kapitu. Sialnya, tak seekor hewan buruan pun ia temukan. Ia lalu berjalan sendirian di tengah hutan. Tak berbicara (tentu saja, kan sendirian!), tak makan. Karena takut diincar binatang buas, ia juga tak tidur. Menghilangkan kantuk dilakukannya dengan naik pohon bila di sisi telaga, dan memetik-metik daunnya.

Tanpa sepengetahuan si pemburu, ternyata pada telaga itu berstana lingga Dewa Siwa. Si Lubdaka anteng saja memetik daun dan menjatuhkannya ke sana, mengusir kantuk.

Hari-hari pun berlalu seperti biasa. Lubdaka pulang, kembali ke pelukan keluarganya tercinta. Beberapa tahun berlalu, selayaknya makhluk hidup, pemburu ini pun tak luput dari hukum lahir-hidup-mati. Lubdaka sakit dan akhirnya meninggal. Sebagaimana dosa karena senantiasa membunuh hewan, ia dihukum di neraka. Neraka di bawah kekuasaan Dewa Yamadipati.

Namun, Dewa Siwa ingin Lubdaka di surga.

Rupanya ulah Lubdaka melakukan pemujaan di malam Siwa secara tak sengaja itulah yang jadi penyebab. Dewa Yama tentu tak terima, maka terjadilah pertempuran demi memperebutankan arwah si Lubdaka. 

Singkat cerita, akhirnya Lubdaka bahagia di surga.

Tamat!

"Hmm.... Tak bicara, tak makan, dan tak tidur," hitungku dalam hati. Dengan tiga hal ini, aku mulai berkhayal dengan mudahnya akan diselamatkan Dewa Siwa saat nyaris digoreng di neraka-nya Dewa Yama, karena semasa hidupku telah menyakiti hati beberapa wanita.

Tapi sekali lagi, lewat buku yang disodorkannya, Aji mengajariku sesuatu.

* * *

"Lubdaka itu, De...," kata Aji memulai wejangannya, "ya kita ini!"

Aku beringsut, duduk mendekati beliau.

"Lubdaka itu bahasa Sansekerta. Kalau di Indonesia-kan, kata 'lubdaka' bermakna pemburu. Aji ini pemburu, kamu ini pemburu, yang baca blog ini (?!) juga pemburu. Semua manusia hakekatnya itu pemburu. Kita mencari harta, pengetahuan, dan segala pemuas indriya lain. Kamu itu Lubdaka."

Aku mengernyitkan alis.

"Lubdaka dikisahkan berjalan di malam yang gelap. Di tilem tergelap sepanjang tahun, yaitu tilem kapitu. Dalam kisah Lubdaka, De, malam gelap itu disebut sebagai awidya. Gelap. Tanpa cahaya," lanjut Aji mulai bersemangat. "Sesuai dengan Catur Asrama, hidup manusia tak berhenti di tahap Grhasta,"

"Iya, setelah mencari harta dan kehidupan di Grhasta, manusia lanjut ke Bhiksuka, mendekatkan diri dengan Penciptanya, kan," tukasku.

"Itulah hakikat si Lubdaka," senyum Aji mengembang sabar. "Ia berjalan di tengah awidya, Lubdaka melakukan jagra tan aturu. Menghadapi kegelapan, Lubdaka melakukan terjaga, tidak tidur."

"Seperti kata Aji di awal, awidya itu kata bersayap, De. Tersusun dari kata 'a' dan 'widya'. Selain bermakna kegelapan, awidya juga bermakna kebodohan atau tidak berpengetahuan."

Das! Saat itu aku paham, mengapa LKS agama ku bertitel Widya Sari.

"Trus, bagaimana caramu melewati hidup yang gelap tanpa berpengetahuan?" tanya Aji retoris, "tentu dengan eling. Tidak terlena. Lubdaka disimbolkan melewati malam gelap dengan Jagra. Manusia bisa saja tersesat, De... terlena mencari pemuas kehidupan. Ada yang iteh mencari uang, mencari kesenangan. Itu hidup yang awidya."

"Lubdaka berjalan sendiri. Tak ada yang diajak bicara. Mona brata. Itu jalan hidup para pencari Tuhan. Para pertapa, Yogi, Sufi, kebanyakan menyepi untuk mencari sepi, kan? Di mana saatmu mengurangi bicara, mengurangi mendengar dari luar, pada saat itulah kamu banyak mendengar suara hati sendiri."

"... berjalan di hutan gelap..."

"Suara hati itulah suara Tuhan, De," senyum Aji, "Zainnuddin MZ yang bilang, Tuhan itu jauhnya tak terkira, namun dekatnya lebih dekat dari urat leher manusia. Tuhan lah yang berbisik, menjadi suara hati yang berkata jangan saat kamu hendak berbuat curang."

Aku manggut-manggut.

"Sekotor-kotornya dosa manusia itu, kalau ia eling akan hakikatnya, duduk sejenak untuk introspeksi diri, Tuhan senantiasa akan membuka jalannya, De. Kalau menurut Aji sih, itulah makna Siwaratri. Jauh lebih dalam dari sekedar tidak tidur tidak makan tidak bicara dan dosa pun terhapus. Tapi tentu ritualnya harus dijalankan dengan khusyuk juga, kalau kuat!" ujar Aji, menutup wejangannya sore itu.

* * *

Ahh... Aji memang selalu bisa memberi sisi lain dari sesuatu.

Aku pun bangun dari duduk bersilaku, Bergegas mandi dan berangkat ke SMP 1 Negara. Duh, OSIS mesti menyiapkan sarana persembahyangan Siwaratri sebelum siswa-siswi berangkat ke Jagadnatha.



"Percakapan Imajiner Anak dengan Ayahnya"
ditulis di Kupang, bersiap-siap ke pura nanti tengah malam...
... bersama kawan-kawan)

8 comments:

  1. Aji artinya ayahmu kan? He must be so cool,,,,

    ReplyDelete
  2. Memahami dan melihat dengan satu sisi lain berbeda. Hampir sama lah kayak orang buta menjelaskan Gajah.

    ReplyDelete
  3. Aji memang brooo,my broo

    ReplyDelete
  4. Seandainya selalu ada bokap yg bercerita seperti ini pada anaknya, mungkin sang anak tidak akan kehilangan arah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ... sebenarnya kbanyakan percakapan di blog ini imajiner... seperti ekalawya yg selalu merasa diajari panah oleh drona, karena saking hormatnya pada guru itu...

      Delete
  5. sareng tiang smp ke jagatnatha ji

    ReplyDelete
  6. Suksme bli dewa, dialog imajiner yg luar biasa ...

    Kesimpulannya: lakukan lah jagra (kesadaran - awareness) tanpa henti, hingga pada saat awidya (kegelapan, kebodohan) telah berhasil dilampaui, niscaya akan dapat disadari (moksa) bahwa lubhdaka (si aku) adalah sang shiva (Brahman).

    Terimkasih banyak,

    Shanti,

    ReplyDelete
  7. Dosa mentakiti hati 1000 wanita berat pasalnya. Wkwkwk.....
    Tambik sugre ...

    ReplyDelete

Tinggalkan komentar sebagai name/url, dan tulis namamu disana...

Powered by Blogger.