Surat Untuk Beliau




Jembrana, 1 April 2017

Akhirnya, hari ini tiba juga.

Jelas bisa kubayangkan bagaimana perasaan beliau. Pasti sumringah! Duh, itu adalah perasaan template bagi kami, pekerja (entah negeri maupun swasta) yang selalu mendamba kata keramat itu.

Kata keramat itu bernama: M U T A S I !

Membayangkan seberkas berformat pdf dengan belasan lembar lampiran, dan nama kita tercantum di dalamnya, terangkai dengan sebuah nama kota familiar, sudah barang membahagiakan. Amat membahagiakan. Patut dirayakan.

Namun -sayangnya- selain merasa bahagia dan bangga, ada rasa sedih terselip di dadaku.

Sayang nian, di hari perayaan itu, aku tak bisa hadir.

Bukan karena tak ingin. Semata karena tak sanggup. Duh gusti, kondisi rekeningku sedang merana-merananya. Belum lagi hari raya yang berdempetan, kompak menguras sumber daya.

"... bahkan tak cukup membeli sebuah tiket Wings..."

Hmm... padahal sungguhpun ini terkesan GR, aku merasa ada ikatan tak kasat mata dengan beliau dan kantor ku. Mungkin, ini mengingatkanku pada halaman dua buku Bung Karno, di mana Bung Karno sempat berujar:

"... beri aku sebuah pisang yang berasal dari lubuk hatimu, maka aku akan memujamu selamanya. Tapi berilah aku sejuta dolar, dan bersamaan tampar pipiku ditengah orang ramai, dan akupun berkata padamu -meski nyawa taruhannya- GO TO HELL!!!"

Begitulah KPP 925, lewat beliau sebagai pemimpinnya. Bagiku, telah begitu banyak memberi pisang yang berasal dari lubuk hati. Kurasakan tulusnya. Jadi, aku senantiasa malu untuk berfikir untung rugi. Bahkan untuk website kantor, saking girangnya diberi kepercayaan, sungkan rasanya meminta sekadar ganti biaya sewa hostingnya pada kantor yang kucintai ini.

"Apalah artinya biaya segini, tak sebanding dengan apa yang sudah beliau beri dan percayakan padaku," gumamku dalam hati, "biarlah ini jadi pemberian dariku untuk kantor tercinta, meski nilainya tak seberapa..."

Namun, sungguh kali ini, justru di hari penting ini, aku tak bisa hadir... hatiku berkali-kali minta maaf.

Meminta maaf pada sosok yang kuanggap sebagai seorang ayah. Ayahku di Pulau Timor.

* * *

Beliau bernama Bapak Syaiful Abidin :)

Sudah beberapa hari ini, hatiku sumuk, tak karuan. Semesta memang suka bercanda. Ada tiga ratusan hari dalam setahun, dan semesta memilih hari ini untuk perpisahan beliau, hari di mana aku kebetulan cuti, kebetulan Nyepi dan Galungan berbarengan, kebetulan tanggal tua di bulan aku sedang habis-habisan.

Tapi aku terharu... melihat beberapa kawan begitu ingin aku ada di hari ini saat ku post foto lama ini di facebook.

"testimoni kawan kantor di facebook "


Seakan belum cukup, H-1 menjelang perpisahan, handphone-ku berdering. Seorang rekanan menawarkan sesuatu yang membuat pertahanan tanggul air mataku jebol.



Mungkin sederhana untuk mereka, tapi buatku ini mengharukan. Bukan tentang nilai harta, sama sekali bukan. Melainkan banyaknya yang merasa kalau aku (seorang anak aneh, yang bekerja masih suka panikan ini) sedikit penting untuk beliau.

Apalah aku, cuma remah peyek di dasar toples. Berminyak.

Sempat aku mengiyakan, bahkan sudah mandi bersiap menuju Denpasar. Namun, ayahku mengingatkan bahwa di Denpasar sedang tak ada saudara. "Semua pulang kampung hari raya. Tidur di mana kamu?" tanya beliau, retoris.

"Lagipula, kalau tidak mampu sendiri, sebaiknya jangan, De," nasihatnya. Ayah memang keras pada saya mengenai gratifikasi. Sembari mengucap kalimat bijak itu, beliau mengunyah Kacang Garuda dari bungkus parcel. Dan parcel itu diberi oleh toko pupuk sebagai wujud terimakasih karena senantiasa direkomendasikannya pada petani. Plis deh...

"Yah, ini kan budaya ketimuran," ujarnya ngeles, kalau kutanya tentang gratifikasi itu. Kadang, beliau memang berstandar ganda. Ganda campuran.

Hatiku bimbang. Jadi, segera kutanya Uthe rekening Mas Irvan, untuk mengembalikan harga tiket nanti. Lagipula, aku takkan mampu menyewa hotel di Denpasar apalagi tiket Bali untuk Galungan. Sedih hatiku, karena melewatkan kesempatan dari orang yang beritikad baik. Di sisi lain, aku merasa bangga begitu banyak yang berniat tulus pada Pak Syaiful, jadi deh aku kecipratan.

Kuketik kalimat di atas sembari berdoa, semoga ketidakhadiran ku tidak mengurangi penghormatan pada beliau.

Bapak Syaiful adalah Orang yang Unik.
Pernahkah ada yang kurang ajar, mengatakan itu pada beliau? Entah, tapi begitulah di mata ku. Begitu teratur, begitu terukur memikirkan segala kemungkinan. Entah hal besar seperti penerimaan negara, sampai hal kecil macem mengiringi kendaraan beliau naik motor ke bandara memitigasi macet di Jembatan Liliba.

Beliau selalu mengingatkanku dengan cara unik.

Saat kusalurkan dua kabel LAN di meja rapat dan mengira semua telah beres, keesokan harinya kabel itu sudah berlabel "Internet" dan "Intranet" dengan selotip warna berbeda. Mencolok, dan bermanfaat.

Pun ketika kuubah letak meja kantor beliau. Keesokan harinya seluruh kabel itu terlabeli pula. Benar-benar teratur.

Selain selalu teratur dan terukur, beliau juga senantiasa percaya pada kami, anak-anak aneh 925. Tanpa beliau dorong, aku akan tetap jadi anak ndak jelas yang genjreng-genjreng gitar sendiri, takkan ada 925 Band yang bahkan telah tampil di aula gubernur. Takkan ada website kantor PajakAtambua.com.

"Pelajaran hari ini, Wo..."
Begitu beliau sering berkisah padaku. Oh yeah, kami sering bercerita, tentang apa saja. Mungkin bercakap-cakap adalah satu saluran relaksasi dari penatnya tuntutan kantor. Bagaimanapun, manusia makhluk sosial, butuh bersosialisasi.

Sering aku bergumam,
"aku sih enak ya, penempatan berbondong-bondong dengan rekan sebaya. Gimana kepala kantor ya, mutasi ke kota asing sendirian. Belum lagi sekantor rata-rata tak berani berbincang sambil menatap mata langsung, saking sungkannya"

Man... pasti kadang terasa sepi dan terasing.

Oleh karena itu, selalu kusempatkan berbagi senyum, mengobrol sambil menggali pengetahuan dari beliau yang jelas lebih dalam dan berisi. Entah ekonomi, agama, musik, sampai warung kopi enak di sekitar Kupang. Itu sangat berkesan buatku.

Seringkali, Susan sang sekretaris sebal bila melihatku bersiap masuk ke ruangan beliau. "Ihhh... pasti lama deh ini, aku duluan bawa berkas aja," begitu ia bersungut dengan centil.

Ada satu kisah beliau yang tertanam dalam di hatiku. Tentang seseorang yang mengikat kuda dengan mengikat simpul. Kisah dari beliau itu sukses menghantui, membuatku bertanya dalm hati, sudah maksimalkah usahaku melakukan ini? Masih adakah simpul pengikat kuda yang masih bisa kulakukan? Lakukanlah. Jangan bergantung pada nasib.

Beliau Bukan Sekadar Kepala Kantor Bagi ku.
Ia adalah  orang yang selalu kuanggap sebagai sosok bapak. Bapakku di Pulau Timor. Sebagai anak, hal yang membuat bapakku kesal tentu tak boleh terjadi, seperti ketika makanan terlambat datang di aula (aku mengingatkan Francklin akan hal itu dan sayangnya jadi salah chat di Yakin Bisa, hehe).

Aku senantiasa bersyukur sempat mendapat pengalaman bersama beliau. Sekiranya Ibu Evimia melalui komentarnya di atas juga merasa sulit mendapatkan penggantinya. Banyak yang berkata hal senada padaku.

Pasti sulit bagi kami. Tapi begitulah hidup,
"jangan sedih karena ini berakhir, tapi ucapkan thanks God karena ini terjadi"


Aku mengetik hal diatas sambil tersenyum.

* * *
Hai, Pak Syaiful...

Nah, sudah sampai di akhir tulisan nih... semoga Bapak belum bosan bacanya. Bila bosan, tahan sedikit lagi, ya Pak, hehe....

Terima kasih banyak, Pak Syaiful, atas semuanya.
Terima kasih telah senantiasa percaya pada saya.

Saya selalu doakan Bapak sekeluarga dimudahkan segala keinginannya,

Mohon maaf bila selama ini saya mengecewakan Bapak. Saya yakin saya banyak mengecewakan, bahkan saya seringkali kecewa pada diri saya sendiri (gubrak). Doakan saya jadi lebih baik ya, Pak...

Sampai jumpa nanti, Pak... sampai bertemu lagi di hari dan kesempatan lain...

Saat hari itu tiba, dan pasti hari itu tiba, saya ingin bisa bercerita kepada Bapak dengan bangganya, "Pak... saya sekarang sudah naik jabatan, 925 Band dan pajakatambua.com sudah keren sekarang Pak. Saya baru baca Tempo, selamat bisnis ayam kampung Bapak sudah merambah Singapura dan Jepang..."

Amiin... hehe


sebagai penutup, saya kutipkan kata-kata yang di pos Pak Ridwan Kamil di Instagram-nya tempo hari yang membuat saya otomatis ingat pada Pak Syaiful.
Kalau kau ingin semua orang suka padamu, jangan jadi pemimpin. Jual lah es krim.

Oiya, Bapak tak keberatan kan saya jadikan bapak saya yang ketiga? Mohon maaf, Pak, tapi slot pertama dan kedua sudah diisi ayah kandung dan Bung Karno. Abdee Slank sudah protes, kenapa ia jadi yang keempat.
hehe....


dari:
Dewa Made Cakrabuana Aristokra
Anak Bapak yang paling bandel

4 comments:

  1. Pacar saya protes dan marah besar karena saya mau donor ginjal ke Abdee Slank.

    ReplyDelete
  2. Btw, sekarang susah banget komen di blog ini.... tombol publishnya ter-hide...
    Setelah centang captha, pencet shift baru ketemu

    ReplyDelete

Tinggalkan komentar sebagai name/url, dan tulis namamu disana...

Powered by Blogger.